Senjata Tradisional Kalimantan Utara

Kalimantan utara adalah salah satu provinsi yang terletak pada bagian Utara Kepulauan Kalimantan. Provinsi ini adalah salah satu pecahan dari daerah Kalimantan Timur.

Kalimantan Utara juga memiliki senjata tradisional dengan bentuk yang khas daripada senjata dari provinsi Kalimantan lainnya. Dimana senjata ini adalah senjata legendaris dari Suku Dayak Lundayeh atau suku yang dikenal haus dengan kepala manusia.

Suku ini akan memburu kepala manusia dalam peperangan antar suku sebagai syarat untuk meningkatkan derajat atau untuk menikah.

Baik berikut ini akan kami jelaskan tentang struktur atau susunan dari senjata tradisional Kalimantan Utara. Yuk, langsung saja simak penjelasan-penjelasan berikut ini!

Macam-macam Senjata Tradisional Kalimantan Utara

Kalimantan Utara masih memiliki senjata tradisional yang masih eksis dan masih dikenakan pada saat ini. Berikut ini adalah macam-macam senjata tradisional Kalimantan Utara beserta penjelasan dan gambarnya!

1. Senjata Tradisional Mandau Kalimantan Utara

Senjata Tradisional Kalimantan Utara

Senjata Mandau adalah salah satu senjata keramat masyarakat Kalimantan utara yang berbentuk seperti senjata parang.

Senjata ini merupakan salah satu senjata tradisional yang memiliki daya pikat magis yang begitu luar biasa.

Menurut sejarah ketika senjata Mandau yang sudah keluar dari sarungnya pasti akan memakan korban. Senjata ini akan dapat masuk ke dalam kupangnya atau sarung jika belum menumpahkan darah musuhnya.

Senjata ini digunakan dalam keadaan terdesak seperti menjaga wibawa diri, kehormatan keluarga dan peperangan yang akan membawa nama suku Dayak. Mandau juga termasuk sebagai senjata utama dan berfungsi sebagai alat untuk memenggal kepala musuhnya.

1. Saran Makna Magis

Pembuatan dari senjata Mandau ini sarat dengan makna magis yang hadir dalam ritual-ritualnya. Sedangkan dari sudut pandang sosial dan budaya, Mandau merupakan identitas dari suku Dayak Kalimantan Utara yang menyimbolkan sifat berani, sabar dan teliti.

Sifat dari magisnya ini bentuk unik dari Mandau juga telah menjadi daya tarik yang khas. Umumnya bisa dilihat dari bentuk bilah dan sarungnya.

Terbuat dari bahan material utama bijih besi sungai Baram, Kuching, Sarawak, Malaysia dengan campuran beberapa macam jenis logam yaitu tembaga.

Selain dipakai untuk mengokohkan bilah Mandau, campuran pada tembaga ini digunakan untuk mempercantik senjata Mandau.

Sudah menjadi sebuah rahasia umum ika Mandau memiliki hiasan tembaga, emas dan perak, hanya diperuntukan untuk sesepuh desa suku Dayak Kalimantan Utara.

2. Proses Pembuatan dengan Ritual Panjang

Proses pembuatan dari senjata tradisional Mandau ini bisa dikatakan tidak mudah. Pandai besi harus melalui tahap ritual panjang untuk meminta petunjuk para leluhur untuk mendapatkan batu yang sudah mengandung biji besi dengan kualitas terbaik.

Setelah menemukan jenis batu besi hasil dari wangsit, kemudian batu besi inilah dibakar dengan api yang bersuhu tinggi.

Proses pembuatan Mandau umumnya dilaksanakan di tepi sungai mengingat dalam memilah bijih besi dibutuhkan air yang sangat banyak.

Mandau yang sudah matang dan siap ditempatkan di sungai agar dingin, lalu dipecah untuk diambil biji besinya. Setiap detail dari bagian Mandau memiliki arti dan makna tersendiri.

Di bagian Mandau ini adalah Kumpang atau Sarung, Bilah, Hulu atau gagang, Ambang dan Langgei Puai, Lilitan rotan dan Totem.

3. Bagian-bagian Mandau Unik

Kumpang atau sarung memiliki beberapa varian material yang akan disesuaikan dengan siapa pemiliknya. Pada umumnya kumpang berbahan kayu meranti yang dilapisi dengan tanduk rusa dan diukir dengan detail.

Terdapat beberapa tempuser udang di bagian atas Mandau yang terbuat dari bahan anyaman rotan.

Selain itu juga terdapat ornamen yang berbentuk kantong yang dibuat dari pelepah kayu yang dicat dengan warna dominasi merah, putih dan hitam. Warna-warna ini memiliki arti filosofi keselamatan dan keberuntungan.

Ornamen dari kantong ini berisi kayu gading dan pisau penyerut kayu yang telah diyakini untuk menghindari pemiliknya dari binatang buas.

Bilah adalah jenis mata Mandau yang memiliki bentuk menyerupai pedang. Umumnya terdapat lekukan di bagian ujung dan ukiran khas yang menjadi identitas sub dari suku Dayak di berbagai tempat di daerah Kalimantan. Untuk rata-rata panjang dari bilah ini yakni 55-56 cm.

 Hulu atau gagang ini terbuat dari tulang hewan atau kayu yang diukir membentuk kepala hewan berparuh. Sekelilingnya yang telah dipenuhi dengan rambut manusia sebagai hiasan.

Rambut manusia ini dipajang bukan tanpa sebuah alasan, setiap ikatan dari rambut tersebut bermakna jumlah kepala yang sudah ditebas.

Pegangan dari senjata Mandau ini juga dililit dengan rotan agar cengkraman tidak lagi mudah lepas walaupun diayunkan keras-keras. Selain berfungsi sebagai tangkai, corak pada hulu Mandau iin bisa memberikan karakter tersendiri.

Ambang merupakan senjata pendamping, senjata tradisional Kalimantan Utara, Mandau berkualitas rendah. Ambang ini terbuat dari bahan besi biasa tanpa sebuah ornamen dan hiasan apapun. Inilah yang dapat membedakan kedua jenis senjata ini meskipun sekilas terlihat sama.

Ambang umumnya dijadikan sebagai cinderamata oleh masyarakat Dayak.  Orang awam yang tidak terbiasa melihat dan memegang senjata Mandau yang asli pasti akan mengalami kesulitan untuk dapat membedakannya.

Langgei Puai adalah jenis pisau kecil yang terdapat di bagian sarung kupang. Bentuknya yang kecil dengan pegangan yang panjang. Pegangan panjang inilah yang disebut dengan Langgei Puai. Pisau kecil ini merupakan salah satu senjata pelengkap dari Mandau.

Sesuai dengan bentuknya fungsi dari Langgei Puai adalah untuk membuat ukiran, meraut bambu kering yang digunakan sebagai peluru sumpit, mencongkel peluru yang menusuk di bagian daging binatang buruan, mengeluarkan duri-duri di telapak kaki dan masih banyak lagi.

Langgei Puai ini tidak bisa diselipkan di Mandau batu, karena Langgei Puai ini hanya bisa diselipkan di Mandau yang telah digunakan untuk berperang dan menumpahkan darah-darah para musuh.

Lilitan rotan yang ada di Mandau ini terdapat tiga lilitan sebagai pengikat Langgei Puai dengan kumpang dan bilahnya.

Dimana nantinya dari Langgei Puai dan Mandau ini bisa dikaitkan langsung dengan kumpang Mandau di pinggang menggunakan pengait rotan.

Totem merupakan wujud simbol silsilah keturunan pemakai nya. Digambarkan dengan ukiran mini totem patung laki-laki atau perempuan yang sudah digantung di kumpang Mandau.

2. Senjata Tradisional Kalimantan Timur Lonjo (Tombak)

Senjata Tradisional Kalimantan Timur Lonjo (Tombak)

Lonjo atau tombak adalah senjata tradisional Kalimantan Utara yang terbuat dari bahan besi dan diikat dengan memakai anyaman yang berupa rotan dengan tangkai dari bambu atau kayu keras.

Pada umumnya senjata ini dipakai sebagai senjata perang atau dibuat untuk berburu binatang yang ada di hutan.

3. Senjata Tradisional Sumpit (Sipet) Kalimantan Timur

Senjata Tradisional Sumpit (Sipet) Kalimantan Timur

Sumpit atau sipet merupakan salah satu jenis senjata tradisional Masyarakat Dayak, senjata ini memiliki bentuk hampir sama dengan selongsong bulat dengan panjang kurang lebih 1,5-2 meter.

Kelebihan dari senjata ini adalah bisa digunakan di jarak jauh dengan tingkat akurasi atau ketepatan tinggi dan tidak bisa menimbulkan suara. Sumpit ini bisa digunakan untuk berburu  binatang dan dijadikan sebagai mas kawin.

4. Senjata Tradisional Kalimantan Timur Dohong

Senjata dohong, senjata yang hampir mirip seperti senjata keris namun lebih besar dan juga tajam di kedua sisinya.

Mata senjatanya yang terbuat dari tanduk dan sarungnya terbuat dari kayu. Senjata tikam ini hanya boleh digunakan oleh ketua adat suku Dayak saja.

5. Senjata Tradisional Telawang (Perisai) Kalimantan Timur

Senjata Tradisional Telawang (Perisai) Kalimantan Timur

Telawang atau perisai ini merupakan tameng khas dari suku Dayak. Senjata ini berguna sebagai alat pertahanan diri dari serangan pada saat berperang. Telawang ini berbahan dasar dari kayu yang kuat dan ringan yaitu kayu pelantan atau pelai.

Telawang yang berbentuk prisma ini memiliki ukuran lebar 30-50 cm dan juga panjang 1,2-2 m. telawang ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang menyerupai sisi bawah atap rumah dengan sebuah pegangan di bagian tengahnya dan bagian luar yang menyerupai sisi atap rumah dengan dihiasi ukiran-ukiran khas daerah Kalimantan Utara tersebut.

Masyarakat suku Dayak Lundayeh ini tidak lagi memakai Mandau sebagai alat untuk menebas kepala musuh sebab sudah tidak ada lagi sebuah peperangan di sana, mereka suka lebih terbuka dengan peradaban dan telah patuh pada peraturan pemerintah.

Sekarang senjata tradisional Kalimantan Utara ini sama dengan senjata tradisional lainnya. Selnatai ini hanya dipakai sebagai pelengkap upacara ritual dan keagamaan, sebagai hiasan untuk dikoleksi dan sebagai alat kesenian.

Sedangkan untuk senjata Mandau tidak memiliki unsur magis yang didalamnya disebabkan senjata ini digunakan sebagai alat berburu dan bertani.

Penutup

Itulah sedikit penjelasan tentang senjata tradisional Kalimantan Utara, dimana masing-masing senjata tersebut tentunya mempunyai fungsi dan keunikan masing-masing.

Semoga dengan adanya artikel di atas bisa bermanfaat dan juga menambah wawasan dari pembaca dan semoga dapat dipahami dengan baik tentang senjata tradisional Kalimantan Utara. Sekian dan Terimakasih.

 

Tinggalkan komentar